Pentingnya Penghargaan terhadap Nilai Kearifan Lokal: Analisis Filosofis atas Kasus Pembakaran Mahkota Cenderawasih di Jayapura

Authors

  • Edi Supriyanto Program Studi Magister Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng
  • Fabylio Cornelius Togas Program Studi Magister Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng
  • Liberatus Welerubun Program Studi Magister Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng
  • Paulus Kus Bukan Program Studi Magister Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng
  • Yohanis Resubun Program Studi Magister Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng
  • Anselmus Jamlean Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng

Keywords:

Mahkota cenderawasih, Kearifan lokal, Pengakuan, Filsafat

Abstract

Every community group has a collective appreciation for objects that hold deep indigenous wisdom (local wisdom), including the Papuan indigenous community regarding the crown of the Bird of Paradise (Cenderawasih). This research aims to provide an accurate review of the Cenderawasih crown burning case in Jayapura and to offer a relevant philosophical assessment. The core question posed by the author is what is the appropriate analysis of the Cenderawasih crown burning issue in Jayapura, especially when viewed from a philosophical perspective. Through qualitative research utilizing a descriptive-analytical writing method, the author found that a violation of local wisdom values occurred through this Cenderawasih crown burning case. The action taken by the BBKSDA (Papua Natural Resources Conservation Agency) was intended to deter individuals involved in the illegal hunting of the Cenderawasih, an endangered endemic bird , but on the other hand, the act of burning they chose sparked protests from the Papuan community, who viewed it as a disregard for their customs and traditions. Therefore, a precise assessment from a philosophical standpoint is needed to avoid bias in evaluating this case

Author Biographies

Edi Supriyanto, Program Studi Magister Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng

Edi Supriyanto dilahirkan di Mekarsari pada 20 Februari 1998. Ia adalah seorang biarawan MSC. Setelah menamatkan studi S1, ia menjalankan tahun orientasi pastoralnya di Seminari Menengah St. Yudas Thadeus Langgur. Kini ia sementara menyelesaikan studi magister filsafat di STF Seminari Pinelemg,

Fabylio Cornelius Togas, Program Studi Magister Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng

Fabylio Cornelius Togas dilahirkan Manado, 26 Oktober 1999. Ia adalah anggota konggregrasi MSC. Tahun pastoralnya dijalankan di Seminari Menengah St. Fransiskus Xaverius Kakaskasen. Saat ini ia adalah mahasiswa pada Program Studi Magister STF Seminari Pineleng

Liberatus Welerubun, Program Studi Magister Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng

Liberatus Welerubun adalah biarawan MSC. Ia ladir di Uwat, 18 Januari 2000. Ia menamatkan studi strata satu di STF Seminari Pineleng. Saat ini sedang melanjutkan studi pada program magister filsafat kampus yang sama.

 

Paulus Kus Bukan, Program Studi Magister Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng

Paulus Kus Bukan adalah seorang biarawan MSC Ia dilahirkan di Nobo, Flores pada 02 April 1993. Ia menyelesaikan studi strata satu di STF Seminari Pineleng. Sekarang sementara menjalani studi program magister filsafat di kampus yang sama.

Yohanis Resubun, Program Studi Magister Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng

Yohanis Resubun adalah biarawan MSC berasal dari Kei Maluku. Ia dilahirkan di Langgur pada 23 Juni 1998. Studi S1 diselesaikan di STF Seminari Pineleng. Sekarang ia adalah mahasiswa program magister filsafat di kampus yang sama.

 

Anselmus Jamlean, Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng

Anselmus Jamlean dilahirkan di Sathean, 2 Januari 1969. Ia adalah biarawan MSC. Studi S1 diselesaikan di STF Seminari Pineleng, sementara gelar magister diperoleh dari STF Driyarkara Jakarta. Saat ini mengabdi sebagai dosen filsafat di STF Seminari Pineleng serentak menjadi Sekretaris Yayasan Pendidikan Katolik Keuskupan Manado dan pendamping asrama bagi para mahasiswa awam, calon katekis.

 

 

Downloads

Published

2026-01-31

How to Cite

Supriyanto, E., Togas, F. C., Welerubun, L. ., Bukan, P. K., Resubun, Y., & Jamlean, A. (2026). Pentingnya Penghargaan terhadap Nilai Kearifan Lokal: Analisis Filosofis atas Kasus Pembakaran Mahkota Cenderawasih di Jayapura. Jurnal Seri Mitra (Refleksi Ilmiah Pastoral), 5(1, Januari), 453 - 465. Retrieved from https://journal.stfsp.ac.id/index.php/jb/article/view/850